Reaksi
bersaing antara eliminasi dan substitusi bimolekuler ini biasanya terjadi
karena perbedaan kebasaan. Derajat nukleofilitas dibandingkan dengan kebasaan
dapat menentukan jalan reaksi. Nukleofilitas merupakan kemampuan pereaksi untuk
mengalami substitusi, sedangkan kebasaan merupakan kemampuan pereaksi untuk
menerima proton.
Reaksi
suatu alkil halida primer dengan suatu nukleofil yang kuat akan mengalami reaksi SN2 .
Apabila nukleofil berupa basa kuat tetapi masih dalam alkil halide primer,
reaksi juga akan mengalami reaksi SN2. Beda dengan alkil halide
tersier, bila nukleofilnya berupa basa
kuat maka akan mengalami reaksi E2.

Pelarut
memiliki pengaruh pada reaksi bersaing eliminasi dan substitusi bimolekuler
ini. Pada reaksi SN2 dan E2 menggunakan pelarut yang kurang polar,
seperti aseton. Pelarut kurang polar digunakan karena pada pelarut kurang polar ini tidak membantu proses ionisasi.
Selanjutnya
yang mempengaruhi reaksi bersaing antar SN2 dan E2 adalah
konsentrasi dari nukleofil. Konsentrasi nukleofil mempengaruhi laju reaksi SN2
dan E2.

Temperatur
juga mempengaruhi reaksi bersaing antara
SN2 dan E2. Naiknya suhu menyebabkan naiknya laju reaksi substitusi
dan eliminasi. Naiknya suhu lebih berpengaruh pada laju reaksi E2, karena pada
reaksi E2 menggunakan energi aktivasi yang lebih tinggi dari pada SN2.
Dengan temperatur yang tinggi memungkinkan molekul untuk lebih cepat mencapai
keadaan transisi eliminasi.
Permasalahan :
- Mengapa konsentrasi pada nukleofil mempengaruhi laju reaksi pada SN2 dan E2?
- Hal apa yang menyebabkan pada reaksi bersaing SN2 dan E2 lebih cenderung terjadi reaksi E2?
- Apakah pada reaksi SN2 dan E2 pada reaksi bersaing dapat menggunakan nukleofil atau basa yang lemah? Jelaskan!

Haii Andi, saya Sulviana Putri dengan NIM A1C117074 akan mencoba menjawab permasalahan terakhir. Reaksi SN2 dan E2 ini cenderung menggunakan basa yang kuat. Apabila yang digunakan basa lemah, yang akan terjadi adalah reaksi SN1 atau E1. Maka persaingan akan terjadi antara SN1 dan E1 bukan SN2 dan E2. Semoga membantu :)
BalasHapusSaya : MUHAMMAD RIFKY SAIFUDDIN
BalasHapusNIM : A1C117080
Saya mencoba menjawab permasalahan no.2...
Hal yang menjadi terbentuknya E2 adalah dikarenakan peningkatan jumlah gugus non-hidrogen, Karena kelompok non-hidrogen yang jauh lebih besar dari hidrogen, serta kekuatan basa yang terjadi. Dan juga dari alkil halida awalnya yang sama, produk dengan ikatan rangkap yang lebih tersubstitusi biasanya mendominasi, disini dikatakan bahwa E2 yang mendominasi.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama Saya Melin Yohana Sitio dengan NIM A1C117038. Saya akan menjawab permasalahan nomor satu. Konsentrasi nukleofil sangat mempengaruhi kompetisi antara reaksi SN2 dan E2 dikarenakan suatu nukleofil atau tingkat kebasaan nukleofil itu akan menentukan reaksi apa yang akan dominan terjadi. Jika nukleofil yang kebasaannya lbih lemah daripada hidroksida bila bereaksi dengan halida primer maupun sekunder maka akan menghasilkan produk substitusi nukleofilik. Terimakasih
BalasHapus